News_Adista

PALU – Denting piano dan cengkok melayu sang vokalis, Resar, membuka lagu syahdu nan galau berbahasa Palu. Tembang tersebut bertajuk Le Jodoh. Sebuah single yang baru saja dirilis band bernama ADISTA, asal Kayumalue-Palu Utara, Sulawesi Tengah.

Sebuah kebanggan tersendiriResar bersama Akbar (gitar) bisa membawakan lagu berbahasa Palu, kota kelahiran mereka, dengan warna music melayu yang lekat dengan masyarakat. “Banyak yang tidak percaya diri membawakan lagu populer dengan bahasa daerah sendiri. Kami coba untuk suarakan bahasa daerah kami dengan warna pop melayu dan kami bangga dengan ini,” kata Resar.

Le Jodoh merupakan single terbaru Adista diciptakan oleh Resar, yang menggambarkan suasana hati pria yang sangat galau. Layaknya laut seakan menjadi muara untuk menumpahkan emosi kesedihan. “Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang ditinggalkan pacarnya karena perjodohan orang tua dengan pria lain,” papar Resar.

Akbar dan Resar sendiri pernah mengalami keadaan yang begitu galau hingga menyelimuti berhari-hari. Hingga sebuah lagu berjudul Ditinggal Lagi pun sempat tercipta sebelumnya dan sempat wara-wiri di radio.

Adista sendiri merupakan bentuk ekspresi Akbar terhadap keadaan dirinya saat itu di tahun 2008. Tepat di hari perayaan kasih saying, 14 Februari, ia menjalin kasih dengan seorang gadis bernama Dian. Adista pun menjadi akronim dari Akbar Dian Saling Cinta.

Namun nasib berkata lain. Di awal tahun 2011, orang tua Dian tidak merestui hubungan mereka. Akhirnya Dian pun meninggalkan Akbar dengan alasan melanjutkan pendidikan di kota Bandung.

Akhir tahun 2011, akronim tersebut dikukuhkan menjadi sebuah band pop melayu. Kini warga kota Palu harus berbangga hati karena kedua musisi senior ini mampu memberikan suatu nuansa music pop melayu dalam bahasa Palu di blantika musik tanah air.

Sebelumnya, Adista telah merilis single-single seperti Ku Tak Bisa, Ditinggal Lagi, dan Saranghae.